Pengacara Sebut Belum Ada Forensik Digital Terhadap SMS Hary Tanoe

 Nasional

JAKARTA, – Ketua Tim Pengacara Hary Tanoesoedibjo, Munathsir Mustaman menilai pihak Polri belum melakukan pemeriksaan forensik digital atas hasil capture percakapan pesan singkat kliennya terhadap jaksa Yulianto yg dijadikan alat bukti.

Hal tersebut disampaikan Munathsir setelah melihat jawaban yg disampaikan pihak Polri pada persidangan Senin (10/7/2017).

“Dalam penerapan alat bukti masalah ini tak ada digital forensic yg dikerjakan terhadap alat bukti yg ada. Yang ada yg kalian lihat di jawaban (Polri) kemarin itu hanya capture dari SMS atau WA yg dikirimkan kepada saudara Yulianto,” kata Munathsir ketika ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (11/7/2017).

Dia mengatakan, proses forensik digital seharusnya dikerjakan seandainya kasusnya berkaitan dengan persoalan ITE.

“Dalam perkara ini kita belum melihat itu,” ujar Munathsir.

(Baca: Polisi Siapkan Materi agar Hary Tanoe Kalah di Praperadilan)

Proses forensik digital dinilai perlu buat membuktikan apakah memang benar yg diterima Jaksa Yulianto berasal dari Hary Tanoe.

“Kita lihat misalkan ada WA atau SMS dari nomor yg sama tetapi atas nama orang lain. Saya lihat dari materi jawaban kemarin ada inisial xxx ini siapa. Itu kan yg mulai kami pertanyakan nanti,” ujar Munathsir.

Selain itu, dia menilai masalah kliennya seharusnya ditangani Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di Kementerian Komunikasi dan Informasi.

“SMS ini kan bagian dari ITE, ya, menurut kalian penanganan kasus ini seharusnya dikerjakan oleh PPNS yang ada di lingkungan Kementerian Informasi. Nah, itu tak dikerjakan di sini. Tidak ada koordinasi dengan PPNS di sana,” ujar Munathsir.

Pihaknya juga melihat adanya kesalahan prosedur soal jarak antara surat perintah penyidikan (sprindik) terhadap kliennya dengan Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP).

(Baca: Kata Hary Tanoe soal Status Tersangka dalam Kasus SMS kepada Jaksa)

Sprindik Hary Tanoe disebut tertanggal 15 Mei 2017. Tetapi. SPDP-nya baru disampaikan ke Hary sekitar 20 Juni 2017 sehingga ada rentan waktu sekitar 47 hari. Hal ini menurutnya bertentangan dengan yg diatur pada Pasal 109 KUHAP.

“Pasal 109 KUHAP menyatakan bahwa SPDP paling lambat disampaikan ke terlapor, pelapor dan pihak terkait paling lama tujuh hari setelah sprindik,” ujar dia.

Hary yaitu tersangka dalam perkara dugaan mengancam Kepala Subdirektorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Yulianto melalui media elektronik. Ia dikenakan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) mengenai ancaman melalui media elektronik.

(Baca: Hary Tanoe: Saya Hanya Katakan, Suatu Saat Saya Akan Pimpin Negeri Ini)

Hary telah diperiksa sebagai tersangka oleh penyidik Bareskrim. Dalam perkara ini, Yulianto tiga kali menerima pesan singkat dari Hary Tanoe pada 5, 7, dan 9 Januari 2016.

Isinya yaitu, “Mas Yulianto, kami buktikan siapa yg salah dan siapa yg benar. Siapa yg profesional dan siapa yg preman. Anda harus ingat kekuasaan itu tak mulai langgeng. Saya masuk ke politik antara yang lain salah sesuatu penyebabnya mau memberantas oknum-oknum penegak hukum yg semena-mena, yg transaksional yg suka abuse of power. Catat kata-kata aku di sini, aku pasti jadi pimpinan negeri ini. Di situlah saatnya Indonesia dibersihkan.”

Namun, Hary membantah mengancam Yulianto.

“SMS ini aku untuk sedemikian rupa bagi menegaskan aku ke politik bagi membuat Indonesia lebih baik, tak ada maksud mengancam,” ujar Hary Tanoe.

Adapun Polri meyakini cukup bukti bagi memutuskan tersangka Hary. Polri membantah ada muatan politis dalam perkara ini.

TV Hary Tanoe Diperiksa Bareskrim Polri

Sumber: http://nasional.kompas.com

Terima kasih telah membaca berita Pengacara Sebut Belum Ada Forensik Digital terhadap SMS Hary Tanoe. Silahkan Komentar dibawah. Baca juga berita lain tentang Nasional lainnya.

Related Posts

Comments are closed.