Gaj Ahmada Viral Dan Diolok-olok, Apa Kata Penulis Buku?

 Nasional


DEPOK, –
Herman Sinung Janutama, penulis buku “Kesultanan Majapahit: Fakta Sejarah yg Tersembunyi”, menanggapi pihak yg mengolok-olok isi bukunya tersebut.

Buku karya Herman itu mendapat banyak perhatian hingga olok-olok setelah viralnya kata ” Gaj Ahmada”.

Saat menjadi pembicara dalam sebuah diskusi yg diadakan di Depok, Sabtu (8/7/2017), Herman menyatakan tak pernah menulis kata Gaj Ahmada di dalam bukunya. Adapun kata yg dia tulis adalah “Gajah Ahmada”.

“Saya telah bilang aku tak pernah bilang Gaj Ahmada. Dalam buku aku Gajah Ahmada,” kata Herman.

(baca: Penjelasan Muhammadiyah Kota Yogyakarta soal Gaj Ahmada yg Viral)

Menurut Herman, nama Gajah Ahmada diperoleh dari metodologi Mardi Kawi yg dia jadikan landasan dalam penelitian buku “Kesultanan Majapahit: Fakta Sejarah yg Tersembunyi”.

Dalam metodologi Mardi Kawi, Herman berujar penyebutan nama Gaj Ahmada dalam budaya masyarakat Jawa tempo lalu tak mungkin terjadi. Karena bukan menjadi kebiasaan pelafalan oleh masyarakat pada masa itu.

“Dalam metodologi Mardi Kawi yg aku pakai, tak boleh menulis Gaj-Ahmada. Harus Gajah-Ahmada, atau jadi sesuatu Gajah Mada. Dalam semua kata-kata Kawi, adanya Maharaja. Tidak ada Maharaj seperti di India,” ucap Herman.

Herman menilai munculnya nama Gaj Ahmada disebabkan adanya kesalahan ketika proses produksi buku oleh penerbit terbaru dari buku tersebut.

“Ketika ada di Facebook yg memamerkan versi terbitan Naura Book itu, kaget saya. Ternyata tulisannya Gaj Ahmada. Waduh ini berarti ada miss antara editor dengan saya,” ucap Herman.

Sumber: http://megapolitan.kompas.com

Anda sudah membaca berita Gaj Ahmada Viral dan Diolok-olok, Apa Kata Penulis Buku?. Silahkan Bagikan berita ini. Baca juga berita lain tentang Nasional lainnya.

Related Posts

Comments are closed.