Akankah Tradisi “Jumat Keramat” Di DKI Dilanjutkan Djarot?

 Nasional


JAKARTA, –
Belum genap sesuatu bulan Djarot Saiful Hidayat dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta. Namun Djarot telah berencana melakukan rotasi pejabat dari eselon IV hingga eselon II.

Saat Basuki Tjahaja Purnama masih menjabat Gubernur, perombakan dan rotasi PNS DKI menjadi semacam mimpi buruk. Pria yg akrab disapa Ahok itu dua kali mencabut jabatan PNS yg tak berprestasi atau bermasalah dan menjadikannya staf.

Selain itu, kebiasaan Ahok melantik pejabat yg baru dirotasi pada Jumat membuat hari Jumat menjadi keramat untuk PNS DKI.

Adapun Djarot menyampaikan salah sesuatu alasan rotasi kali ini karena banyak jabatan yg kosong ditinggal PNS yg telah purnatugas.

“Semuanya ada, eselon II, III, IV, termasuk mengisi jabatan-jabatan lowong karena ada dua jabatan yg kosong, termasuk juga mengisi jabatan para pejabat yg telah purnatugas,” ujar Djarot, di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Rabu (5/7/2017). 

Namun, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri bagi merealisasikan perombakan tersebut. Hal ini berbeda dengan masa kepemimpinan Ahok yg mampu segera merombak PNS. 

Djarot menyampaikan dia harus berkoordinasi dengan Kemendagri karena masa jabatannya cuma tinggal dua bulan lagi.

“Kalau dahulu zamannya Pak Ahok kan dapat langsung, tapi sekarang kan masa (jabatannya) kurang dari 4-5 bulan, jadi kalian mulai konsultasi dengan Kemendagri,” ujar Djarot. 

(baca: Rotasi PNS DKI Juga Terkait Persiapan Pemerintahan Anies-Sandiaga)

Teruskan tradisi Jumat keramat?

Hal yg membuat perombakan dan rotasi PNS menjadi semacam mimpi buruk adalah karena kebiasaan Ahok yg menurunkan jabatan PNS menjadi staf. Kali ini, Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DKI Jakarta Agus Suradika memastikan tak ada PNS yg mengalami “grounded” menjadi staf.

Pejabat eselon II setingkat kepala dinas, asisten sekretaris daerah, dan wali kota cuma mulai dirotasi dan tak sampai pada penurunan jabatan.

“Tidak ada grounded, tak ada yg seram-seram. Kalau zaman Pak Ahok kan seram,” ujar Agus.

Namun begitu, Agus menyampaikan mampu saja Djarot berubah pikiran dan melakukan demosi atau menurunkan jabatan PNS.

Selain itu, Agus juga belum tahu kapan rotasi jabatan mulai diumumkan. Apakah pada Jumat seperti yg biasa dikerjakan Ahok atau pada hari lainnya.

Meski demikian, dia memastikan rotasi jabatan mulai dikerjakan pada bulan ini.

“Kalau Pak Basuki senangnya kan Jumat. Ini apakah Jumat atau Rabu, aku belum tahu,” ujar Agus.

Pejabat eselon II yg mulai dirotasi disebut-sebut lebih dari 10 orang, sedangkan pejabat eselon III yg dirotasi sekitar 70 orang dan pejabat eselon IV sekitar 100 orang.

Untuk eselon III dan IV, rotasi dikerjakan karena banyak jabatan yg kosong setelah ditinggal PNS yg pensiun.

“Jadi ini bukan perombakan kok, ini mengisi yg pensiun dan rotasi pejabat supaya roda organisasi jalan,” ujar Agus.

Pelayanan akan lambat

Agus menyampaikan, rotasi pejabat satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dikerjakan bulan ini karena pelayanan di dua sektor akan kurang maksimal.

“Secara umum ini bagi percepatan karena ada yg lambat, misalnya ada anggaraan pengadaan lahan tapi sampai sekarang enggak ada tanda-tanda. Kemudian layanan perizinan, di PTSP cepat tapi lama di back office,” ujar Agus.

Agus mengatakan, pejabat pada SKPD yg serapannya rendah hingga tengah tahun ini kemungkinan dirotasi. Agus juga menegaskan, rotasi ini bukan karena Djarot Saiful Hidayat naik menjadi Gubernur DKI Jakarta tetapi karena kebutuhan buat meningkatkan kinerja.

“Ini kebutuhan institusi, tak semata-mata Pak Djarot gubernur dahulu diganti. Siapa pun gubernurnya kalau melihat roda pelayanan lambat pasti mulai bersikap,” ujar Agus.

Selain karena pelayanan yg lambat, alasan yang lain perombakan PNS DKI bulan ini yakni adanya jabatan yg kosong. Tiap bulan, terus ada PNS DKI yg pensiun dan meninggalkan jabatannya.

Oleh karena itu, jabatan yg kosong itu harus diisi. Sampai ketika ini, dapat dipastikan bahwa tak ada PNS yg “dihukum” dengan dijadikan staf. Belum diketahui juga apakah pengumuman dan pelantikan pejabat barunya mulai dikerjakan pada Jumat.

Namun, seluruh tergantung Djarot yg kini menjadi Gubernur. Akankah Djarot melanjutkan tradisi Jumat Keramat seperti yg dikerjakan Ahok?

TV Jakarta diperkirakan mulai dihadapkan dengan persoalan pendatang baru yg ingin mengadu nasib di Ibu Kota.

Sumber: http://megapolitan.kompas.com

Terima kasih sudah membaca berita Akankah Tradisi “Jumat Keramat” di DKI Dilanjutkan Djarot? . Silahkan Bagikan berita ini. Baca juga berita lain tentang Nasional lainnya.

Related Posts

Comments are closed.