Setahun Di Kendallville, Cerita Ceudah Tentang Toleransi Di AS

 Nasional

JAKARTA, – Dari Serambi Mekkah Ceudah Haja Shafira terbang ke Kendallville, Indiana, Amerika Serikat, tahun 2016.

Selama beberapa belas bulan, Ceudah tinggal bersama orang tua angkat, seorang pastor.

Bagi Ceudah, ternyata berinteraksi dengan orang-orang yg jauh berbeda dari lingkungan kesehariannya di Indonesia, tak seseram yg dibayangkan.

Penerimaan mereka, teman-teman Ceudah di East Noble High School serta lingkungan tempat tinggal orang tua angkatnya, begitu baik bahkan kepada kaum minoritas.

Belia 18 tahun itu juga sangat sayang dengan orang tua angkatnya. Satu hal yg ia pelajari, merupakan perbedaan bukanlah penghalang bagi saling mengenal dan mengasihi.

“Walaupun Ceudah minoritas di sana dan tinggal sama orang yg mengerti agama berbeda, tapi Ceudah belajar banyak bagaimana perbedaan itu bukan menjadi penghalang antar beberapa orang bagi saling mengenal dan mencintai,” kata Ceudah ketika berbincang dengan di acara buka bersama, di kediaman Duta Besar Amerika Serikat buat Indonesia Joseph R Donovan, Minggu (18/6/2017).

“Karena walaupun berbeda agama, kalian mampu makan malam bersama. Kami berdoa, mereka baca doa secara Kriatiani dan aku baca doa secara Islami, dulu kalian pun makan,” lanjut Ceudah.

(baca: Dubes AS Minta Pelajar Program YES Meneruskan Nilai Keberagaman)

Ceudah adalah sesuatu dari 83 pelajar Indonesia yg mengikuti Youth Exchange Study (YES) Program.

YES Program adalah kegiatan pertukaran pelajar yg dikembangkan Departemen Luar Negeri AS dan menyasar pelajar di negara-negara mayoritas Muslim.

Tujuannya adalah mengenalkan para pelajar tentang AS sekaligus membuat orang-orang di Negeri Paman Sam memiliki pemahaman yg lebih baik tentang Islam.

Ceudah, pelajar SMA Negeri Modal Bangsa Aceh itu, rupanya sangat tertarik dengan program tersebut.

Ia juga mengaku terus tertarik dengan hal-hal baru dan membuat pengalaman baru.

Setelah serangkaian tes seleksi, Ceudah akhirnya lolos dan berangkat ke AS. Di sana, Ceudah tak cuma belajar di East Noble High School.

Dia juga mempromosikan tentang Indonesia dalam berbagai forum, baik di kelas, maupun di organisasi.

Bagi Ceudah, yg menarik ketika awal sekolah di sana adalah proses adaptasinya. Karena sistem pendidikan di Amerika Serikat berbeda dari sistem pendidikan di Indonesia.

“Karena sistem pendidikan di AS itu moving class, jadi kalau mau berteman tak semudah di Indonesia yg kenal seluruh karena sesuatu kelas,” kata dia.

“Di sana memang kalian harus tiba ke mereka memperkenalkan diri. Kalau misalnya kami diam saja, mereka tak mulai peduli. Tetapi maksudnya bukan mereka benar-benar tak peduli. Mereka cuma tak kenal kita,” kata Ceudah.

Gadis yg sehari-hari mengenakan jilbab ini tak merasa kesulitan dalam beribadah.

Misalnya, saat hendak shalat dzuhur, Ceudah diperkenankan oleh pihak sekolah buat memakai salah sesuatu ruangan buat sembayang, setelah meminta izin terlebih lalu kepada counselor.

Ceudah merasa masyarakat di daerah tempat tinggalnya juga tak memamerkan gejala-gejala Islamophobia.

Namun, di daerah lain, dia mengakui ada segelintir orang yg masih menampakkam gejala-gejala tersebut.

“Di daerah Ceudah tak ada, kayaknya mereka telah mengerti. Cuma ada dua orang yg tidak jarang termakan media, underestimate, tak mengerti tapi judging,” kata dia.

“Tetapi Ceudah banyak berinteraksi dengan orang, dan mereka tahu kalau tragedi (teror) itu, orangnya yg salah. Bukan tentang agamanya. Menurut Ceudah, bahkan kalau dia tak ada agama atau dia Atheist pun kalau mau berbuat jahat, ya berbuat jahat saja,” ucapnya.

Sementara itu, kegiatan yg menurutnya menyenangkan saat di luar sekolah adalah mengikuti organisasi, seperti MAYC atau the Mayor’s Youth Advisory Council.

Ceudah mengatakan, organisasi ini dipegang segera oleh Wali Kota Kendallville, dan di dalamnya para pemuda dapat berinteraksi segera dengan wali kota mereka.

“Kayaknya itu bagus diterapkan di Indonesia, di mana pemimpin segera berinteraksi dengan pemuda dan membuat hal-hal baru, proyek baru. Menurut Ceudah, memang pemuda itu belum cukup pengalaman dalam andil pemerintah. Tetapi kalau organisasi seperti itu, mereka mampu memberikan ide dan mendapat pengalaman,” katanya.

Dari pengalamannya mengikuti program pertukaran pelajar ini, Ceudah merasa mendapat banyak pelajaran dan pengalaman berharga. Kepemimpinan, kemandirian, budaya, saling menghargai perbedaan.

Diterima di lingkungan yg mayoritas berbeda membuat Ceudah belajar bagi menunda menghakimi orang lain.

“Tunda judging. Kalau kami ketemu orang jangan segera judging. Tunda dahulu dan mengerti dulu. Karena orang itu berbeda-beda dan setiap orang milik sisi baik dan buruk. Dan tidak jarang orang tak seperti apa yg terlihat,” pungkasnya.

Sumber: http://nasional.kompas.com

Anda telah membaca berita Setahun di Kendallville, Cerita Ceudah Tentang Toleransi di AS. Silahkan Bagikan berita ini. Baca juga berita lain tentang Nasional lainnya.

Related Posts

Comments are closed.